1

Layaknya sistem operasi Windows milik Microsoft yang sudah sangat terkenal, sistem operasi Android milik Google juga dilaporkan menjadi salah satu OS yang sangat digemari oleh banyak orang. Sayangnya paa penggemar tersebut bukan hanya pengguna biasa, tapi juga mereka yang memiliki kemampuan tapi justru digunakan untuk hal-hal yang merugikan seperti menyebar virus dan mencuri data pengguna bahkan tidak segan untuk merusak perangkat yang mereka incar.

Berbeda dengan saudara ‘open source’-nya yang lain, Android dikabarkan lebih rentan untuk diserang oleh virus dan semacamnya. Dan itu akan berakibat pada perangkat yang menjalankan OS tersebut. Seperti yang sudah dikabarkan sebelumnya, tidak kurang dari 12 juta smartphone berbasi Android terjangkit iklan yang mampu menguras data penggunanya hingga 2 GB dalam sehari. Baru-baru ini sebuah kasus baru yang masih berkaitan dengan iklan pada aplikasi Android juga kembali dikabarkan meresahkan pengguna OS mobile miik Google tersebut.

Tidak hanya iklan ‘haus’ kuota, beberapa waktu yang lalu pengguna Android juga sempat dibuat resah dengan beberapa aplikasi palsu yang memunculkan iklan porno di perangkat mereka. Keberadaan iklan-iklan plasu yang memiliki kemampuan untuk mengakses situs porno tersebut diketahui oleh sebuah perusahaan kemanan bernama Eset. Mereka mengabarkan ada sekitar 51 aplikasi baru (di Google Play Store) yang mengandung content porno. Aplikasi yang berisi “porn-clicker” tersebut dilaporkan meniru sebuah aplikasi video populer bernama Dubsamsh dan sudah ditemukan sejak April lalu.

Informasi yang diterima juga menyebutkan kalau sejak tiga bulan terakhir sudah ada sekitar 60 aplikasi palsu yang diunduh lebih 200 ribu kali oleh pengguna Android. Itu artinya masih banyak pengguna yang tertipu dengan aplikasi tersebut. Aplikasi palsu tersebut memang tidak mencuri data penting pengguna, tapi ia akan menyamar sebagai aplikasi dan berjalan secara backgraound dan secara diam-diam akan mengakses situs porno serta mengkilk iklan tersebut secara otomatis.

Google sendiri dikabarkan teah menanggapi masalah ini dengan menarik beberapa aplikasi aplikasi palsu dari Play Store. Mereka memiliki sebuah teknologi bernama Bouncer yang mampu memeriks setiap aplikasi yang akan dimasukkan ke layanan Google Play Store. Namun sayangnya penjahat aplikasi juga tidak kalah cerdas untuk menipu teknologi pemindai milik Google tersebut. Akibatnya aplikasi-aplikasi tersebut masih berpotensi untuk berkeliaran dan menyerang pengguna. Untuk itu, berhati-hatilah.

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY