Terlalu Banyak Belajar Tidak Baik Juga Untuk Anak , Kok Bisa?

Terlalu Banyak Belajar Tidak Baik Juga Untuk Anak , Kok Bisa?

327
0
SHARE

1

Sebagai orangtua kita harus mengerti kondisi mental maupun fisik sang anak yang separuh harinya dihabiskan dengan belajar dan terus belajar. Memang kita mengharapkan memiliki anak-anak yang cerdas, berprestasi dan membanggakan. Tetapi kita juga perlu memikirkan dirinya sebagai anak-anak yang juga perlu bermain dan beristirahat. Kita tidak bisa memaksakan kehendak kita kepada diri mereka tersebut, karena menurut survei bila belajar terus tanpa porsi bermain dan istirahat yang seimbang akan berdampak buruk kepada sang anak.

Studi tersebut dilakukan oleh perguruan di Inggris, berdasarkan survei yang dilakukan terhadap 420 anggota di sekolah akademi yang tersebar di seluruh Inggris, 48 persen siswa mengakui melukai diri sendiri, 43 persen siswa mengaku mengalami gangguan makan, dan 20 persen siswa melakukan percobaan bunuh diri akibat dari waktu belajar yang berlebihan dan target yang meleset.

The Association of Teachers and Lecturers menyalahkan sistem kurikulum Inggris yang terlalu padat dan berorientasi akan hasil ujian. Bukan hanya siswa saja yang mengalami tekanan tinggi melainkan guru dan para staf sekolah juga merasa tertekan bila melihat anak didik mereka yang memiliki beban akademis yang luar biasanya.

Sebanyak 82 persen guru mengakui beban siswa Inggris saat ini jauh lebih berat dibanding 10 tahun lalu. Menurut Konselor Warwick School, Inggris, mengatakan “Anak muda sekarang hidupnya seperti treadmill. Mereka menghabiskan waktu berjam-jam di depan komputer, jadwal yang tak ada habis-habisnya, dan tidak memiliki kesempatan. Tak mengejutkan jika banyak anak sakit mental,” ujar beliau.

Tak jarang seperti yang diungkapkan bila delapan dari 10 staf pembimbing harus berhadapan dengan siswa yang mengalami masalah mental dan emosional seminggu sekali. Bahkan, 36 persen staf tersebut berkata setiap hari harus membantu para siswa menangani masalah mental.

Untuk itu Department for Education di Inggris ,emgaku telah menginvestasikan dana sebesar 1,4 Milar Poundsterling atau sekitar dengan Rp 2 Triliun untuk menyediakan spesialis atau konselor mental guna mendukung generasi muda yang mengalami seperti gangguan makan dan melukai dirinya sendiri.

Dari survei diatas kita perlu meregangkan pikiran anak-anak dengan sedikit memberikan nya perhatian, memberikan hiburan, bertukar cerita pengalaman belajar pada jaman dulu dengan jaman sekarang, dan atau mengajak mereka bermain di luar. Sering kita hanya memperhatikan pelajaran mereka mengenai nilai yang mereka peroleh, tetapi kini anda harus mengutamakan kepada diri sang anak baik mental dan fisiknya.

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY