1

Susana gembira kini tengah dinikmati oleh para pengguna smartphone Android yang berada di Tiongkok. Pasalnya beberapa waktu lalu mereka berhasil memenangkan tuntutan konsumen yang tidak menginginkan adanya “aplikasi wajib” atau bloatware di perangkat smartphone yang mereka gunakan. Sekilas kehadiran bloatware di Android mungkin tampak biasa, namun banyak pengguna yang mengeluhkan hal tersebut. Selain dianggap tidak penting banyak aplikasi yang diberikan oleh para vendor tidak dibutuhkan sama sekali oleh pengguna.

Banyak pengguna mungkin yang masih belum memahami tentang bloatware yang terdapat pada perangkat berbasis Android yang dirilis oleh para vendor. Namun bagi mereka yang sangat memperhatikan fungsi dan kenyamanan, tentu akan sangat terganggu dengan hal yang satu ini. Sebab, selain menyebabkan perangkat menjadi penuh, keberadaan bloatware juga menyebabkan banyak resource seperti RAM, baterai, bahkan kuota internet terbuang percuma. Sehingga tidak bisa digunakan secara maksimal.

Parahnya lagi aplikasi bawaan tersebut tidak bisa dihapus begitu saja oleh pengguna, karena jika itu dilakukan akan ada resiko yang harus ditanggung oleh pengguna. Seperti yang banyak dikeluhkan oleh para pengguna Samsung. Vendor lain yang juga memberikan banyak bloatware dalam perangkat mereka adalah Asus. Parahnya, selain tidak bisa dihapus, pengguna juga terancam tidak mendapatkan garansi dan update OTA jika menghapus aplikasi secara paksa yang tentu saja memerlukan akses root terlebih dahulu.

Kebebasan atas hal itulah yang telah diperjuangkan oleh banyak pengguna di Tiongkok. Melalui Komite Perlindungan Konsumen para pengguna smartphone di sana berhasil memenangkan gugatan yang membuat Samsung dan beberapa vendor lain yang memasarkan perangkat mereka di sana harus menyediakan sebuah patch khusus untuk pengguna. Dengan menggunakan patch tersebut diharapkan pengguna di Tiongkok bisa memilih untuk menghapus aplikasi bloatware yang tidak begitu mereka perlukan.

Komite Perlindungan Konsumen menyebutkan bahwa hanya ada sekitar 24 aplikasi dari 44 aplikasi pre-install di perangkat Samsung Galaxy Note 3 yang benar-benar digunakan oleh para pengguna perangkat tersebut. Lebih lanjut dikatakan, jika Samsung dan beberapa vendor lainnya tidak menanggapi hasil gugatan yang telah dimenagkan oleh hakim di pengadilan itu, maka meraka akan tetap memperjuangkan hak-hak para pengguna yang mendapat jaminan perlindungan dari mereka.

Tapi sekali lagi, kemerdekaan tersebut hanya bisa dirasakan oleh pengguna di Tiongkok saja. Bagi pengguna di negara lain termasuk Indonesia, jika ingin merasakan hal yang sama, maka mereka harus berani mengambil langkah seperti yang dilakukan oleh para pengguna di Tiongkok.

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY