Tablet GramediaBook

Sudah merupakan pemandangan yang umum jika ada anak-anak yang terlihat asyik bermain dengan perangkat tablet. Bahkan mereka bisa berjam-jam bermain dengan tabletnya. Akibatnya banyak orang ua yang mengeluh karena anaknya kecanduan bermain dengan gadgetnya tersebut. Permasalah inilah yang mungkin menjadi cikal bakal dibuatnya tablet edukasi oleh Intel.

Untuk mengembangkan produk edukatif ini, Intel bekerjasama dengan beberapa pelopor dalam dunia pendidikan diantaranya PesonaEdu, Saratech, dan Grasindo. Tidak hanya itu, Intel juga menggandeng Microsoft untuk mengoptimalkan pengembangan tablet edukasi ini.

Kerjasama ini akhirnya menghasilkan produk tablet edukasi yang disebut-sebut sebagai yang pertama dengan nama GramediaBook.

GramediaBook adalah tablet yang secara khusus dirancang untuk menerapkan model pembelajaran abad ke-21. Salaha satunya adalah dengan menggabungkan konsep perpustakaan digital yang kaya dan interaktif.

Country Manager Intel Indonesia, Harry K. Nugraha seperti yang dikutip dari Okezone, Rabu (4/2/2015), mengungkapkan bahwa pengembangan tablet ini adalah salah satu bentuk tanggung jawab sebagai pelopor di bidang inovasi teknologi. Tablet ini juga ditujukan untuk mendukung transformasi pendidikan di Indonesia, dimana anak-anak bisa belajar secara interaktif melalui tablet tersebut.

GramediaBook akan dijual dengan kisaran harga Rp2,2 juta. Dalam paket penjualannya tablet ini sudah dibundling dengan Buku Digital Interaktif (BDI), Enrichment, Assesment (berisi koleksi soal atau try out), dan English e-Learning. Namun paket Bundling ini kabarnya hanya akan disediakan dalam jumlah yang terbatas.

Dari segi tampilan, tablet ini memiliki tampilan yang cukup lebar, yakni 8,9 inchi. Ukuran tersebut akan membuat anak lebih nyaman saat menggunakannya untuk belajar. Adapun prosesor yang digunakan adalah Intel Baytrail dengan sistem operasi Windows 8.1 Bing.

Dengan adanya tablet edukasi seperti GramediaBook ini, Orang tua bisa sedikit lega karena proses belajar bisa lebih menyenangkan dan anak juga perlahan akan meninggalkan hobinya bermain game seharian. Pemerintah sendiri sebenarnya sudah mulai menggulirkan wacana serupa untuk mengganti format buku pelajaran cetak menjadi tablet yang dinamakan E-Sabak. Namun tentunya itu bukan hal mudah karena banyaknya siswa di Indonesia.

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY